Showing posts with label Khotbah Persiapan Acara. Show all posts
Showing posts with label Khotbah Persiapan Acara. Show all posts

Monday, June 13, 2016

JANGAN MELUPAKAN TUHAN


JANGAN MELUPAKAN TUHAN
(Yakobus 4:13-15)

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Mengawali perenungan kita pada saat ini, marilah kita bertanya terlebih dahulu pada diri kita masing-masing, adakah kira-kira di antara kita saat ini yang tidak memiliki suatu rencana dalam menjalani hidup ini…? Saya yakin, setiap orang pasti memilikinya. Bahkan, mungkin ada berbagai macam rencana yang telah kita rancang masing-masing untuk kita realisasikan demi mencapai tujuan masa depan hidup kita. Perencanaan merupakan salah satu faktor yang sangat penting, dan perlu diperhatikan dalam menjalani kehidupan di dunia ini.  Dengan perencanaan yang baik dan matang, diharapkan langkah hidup kita dapat berjalan lebih teratur dan terarah pada suatu sasaran yang ingin dicapai.
Yesus Kristus sendiri sangat menekankan pentingnya sebuah rencana dalam menjalani hidup, khususnya dalam mengawali dan menyelesaikan sebuah pekerjaan. Dia mengatakan bahwa, “Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.” (Luk 14:28-30).
Segala sesuatu perlu rencana. Hidup yang terencana merupakan suatu bukti bahwa kita mempunyai target. Tidak sekedar menjalani hidup. Sekaligus juga sebagai pertanda bahwa kita sangat menghargai setiap waktu, potensi dan sarana hidup yang Tuhan anugerahkan.  Dalam setiap bentuk perencanaan, mesti disertai komitmen dan usaha untuk mewujudkannya, agar rencana-renaca yang kita bangun tidak sekedar mimpi dan angan-angan belaka.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Menjadi pertanyaan bagi kita sekalian, dengan mempersiapkan sebuah rencana yang matang disertai tekad dan kerja keras, apakah sudah cukup menjadi jaminan untuk meraih keberhasilan...? Nah, disinilah pokok persoalan yang sering kita abaikan. Sebuah perencanaan dan perjalanan hidup kita baru bisa mencapai kesempurnaan dan memberi makna yang sesungguhnya apabila Tuhan dilibatkan di dalamnya.  Yakobus memberi peringatan agar jangan pernah kita melupakan Tuhan dalam setiap perencanaan hidup.
Melalui bacaan ini, Yakobus menyoroti kebiasaan buruk kita selaku manusia yang sering tidak melibatkan Tuhan dalam berbagai rencana kehidupan kita. Mungkin ada saat-saat tertentu dalam kehidupan kita, kita tidak lagi melibatkan Tuhan dalam rencana-rencana hidup kita, karena kita masih merasa mampu mengatur langkah hidup kita sendiri.  Terkadang, dengan mengandalkan pengalaman, kepintaran, kekuatan, kecanggihan teknologi, uang atau kekayaan yang kita miliki, kita mengira bahwa apa yang kita rencanakan dan kerjakan pasti berhasil.
Dengan tegas, Yakobus mengkritik praktek hidup dan cara berpikir seperti ini. Ia mengatakan, “Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung’, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap (ay.14). Perjalanan kehidupan ini tidak selurus dan semulus yang kita bayangkan. Harapan dan kenyataan tidak selamanya berbarengan. Terkadang ada  hambatan  yang tidak pernah kita harapkan, sementara kita hanya bisa menduga-duga dan mengira-ngira. Oleh karena itu, Yakobus menyarankan agar dalam setiap perencanaan, kita selalu mengatakan bahwa, “jika Tuhan menghendakinya maka kami akan berbuat ini dan itu” (ay.15).

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Coba kita renungkan secara mendalam, seberapa sering kita menjalani rutinitas bangun-tidur kita setiap hari, melakukan aktivitas hidup kita tanpa berdoa kepada Tuhan, meminta agar Tuhan menyertai kita dalam seluruh keberadaan kita? Atau sebaliknya. Sudah seberapa sering, sebelum kita melakukan suatu perjalanan; dengan berjalan kaki, mengendarai mobil atau sepeda motor, terlebih dahulu kita tunduk sejenak berdoa memohon Tuhan melindungi kita agar sampai di tempat tujuan dengan selamat? Sudah seberapa sering sebelum bekerja, terlebih dahulu kita berdoa meminta Tuhan terlibat dan memberkati apa yang kita lakukan di tempat kerja? Atau sudah seberapa sering kita menjalani hari-hari hidup kita, sungguh-sungguh telah melibatkan Tuhan, biar Tuhan yang mengaturnya?
Cobalah periksa diri kita masing-masing, apakah selama ini kita telah menempatkan Tuhan dalam kehidupan kita pada posisi yang semestinya? Apakah ketika kita memulai hari-hari hidup kita, kita sudah mengawalinya dengan mengharapkan dan mengandalkan perlindungan kasih Tuhan? Apakah kita telah menjadikan Tuhan sebagai sumber segala berkat; rohani maupun jasmani? Apakah kita telah menjadikan diri kita sebagai orang berkenan di hati Tuhan karena kepercayaan kita kepada-Nya, sehingga berkat-berkat Tuhan terus mengalir kepada kita? Mari kita mengandalkan Tuhan dalam segala aspek dan aktivitas kehidupan kita. Jangan kita hanya mengandalkan kemampuan kita sendiri, melainkan yang utama adalah harus mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Bukankah hidup kita hanya sebentar saja, jika dibandingkan dengan kekekalan Allah? Yakobus mengibaratkan hidup kita di dunia ini sebagai uap yang hanya kelihatan sebentar saja, lalu kemudian lenyap.
Oleh karena itu saudara-saudara, dalam rangkaian dengan persiapan kegiatan yang kita rencanakan pada saat ini… (sebutkan rencana kegiatan apa……), marilah kita sungguh-sungguh mengarahkan segala pengharapan hidup kita hanya ke dalam tangan Tuhan. Biarlah campur tangan Tuhan yang selalu kita nantikan, mengatur segala langkah-langkah perencanaan dan pekerjaan yang akan kita lakukan, sehingga oleh bimbingan Roh Kudus kita senantiasa diberikan hikmat dan pengertian untuk mengikuti segala jalan-jalan yang ditunjukkan-Nya. Sebab Tuhan pasti membuat segala sesuatu menjadi indah pada waktunya.
Firman Tuhan yang kita baca ini mengajarkan kepada kita bahwa segala usaha kita sebagai manusia dalam perencanaan apapun, akan menjadi sia-sia jika hanya mengandalkan kekuatan kita semata-mata. Hal ini berarti, Tuhanlah yang harus menjadi dasar dalam segala aktivitas kita, bahkan dalam rencana dan pekerjaan kita yang terkecil sekalipun. Orientasi hidup yang benar adalah untuk memuliakan nama Tuhan. Karena segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya (Rm 11:36). Terpujilah nama Tuhan. Amin!


Sunday, June 14, 2015

RANCANGANKU BUKANLAH RANCANGANMU



RANCANGANKU BUKANLAH RANCANGANMU
( Bacaan : Yesaya 55:8-9 )
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Ada dua orang pemburu yang sementara menyeret seekor rusa hasil buruan ke tempat di mana mereka menaruh truk yang akan dipakai untuk kembali ke rumah. Setelah beberapa lamanya menyeret rusa mereka, kedua pemburu ini kemudian bertemu dengan pemburu lain
yang juga sementara berburu tapi mereka belum mendapatkan hasil. Pemburu yang belum mendapatkan hasil ini kemudian berkata kepada mereka “ saya tidak bermaksud untuk mendikte atau mengajar, tapi saya pikir, kalian akan lebih muda menyeret rusa itu dengan arah yang berlawanan sehingga tanduknya tidak tertancap ke tanah”. Setelah si pemburu pergi, keduanya memutuskan untuk mencoba menggunakan cara yang disarankannya. Setelah berjalan beberapa saat, yang seorang berkata kepada yang lainnya, “apa yang disarankan orang itu sangat tepat, cara ini lebih muda dari cara yang pertama karena tanduk rusa kita tidak lagi tertancap-tancap ke tanah”. Lalu rekannya menimpali “ya, dia memang benar… tapi sayangnya cara yang dia tawarkan itu, membuat kita semakin menjauh dari truk untuk pulang ke rumah karena kita salah arah”.
Mungkin ada di antara kita yang hadir yang menertawai tindakan dua pemburu tadi. Bahkan tidak menutup kemungkinan, kita mengatakan dalam hati jika mereka sangat tolol dan tidak menggunakan pikirannya ketika mereka diberitahu oleh si pemburu yang lain tadi. Apapun pendapat dan tanggapan kita terhadap cerita tersebut, mudah-mudahan kita semua bisa melihat cerita ini, sebagai salah satu cerita yang mengemukakan sebuah fakta kehidupan kita, mengenai terlalu seringnya kita kehilangan arah yang jelas hanya karena terlalu banyak mendengarkan apa kata orang. Tidak jarang kita kehilangan tujuan karena hanya mau mengalami hal yang baik dan mudah-mudah saja seperti yang dialami oleh kedua pemburu tadi. Hanya karena tanduk rusa mereka yang selalu tersangkut karena cara mereka menyeret yang salah, lalu kemudian dipengaruhi oleh orang lain, akhirnya mereka mendengarkan orang lain yang sebenarnya bukanlah ajaran yang benar, malah sebaliknya membawa mereka semakin jauh dari tujuan semula.
Situasi seperti ini bukanlah hal baru bagi kedua pemburu tadi dan mungkin juga bagi kita semua. Situasi seperti ini juga pernah terjadi dalam Alkitab, bahkan itu terjadi atau dialami oleh bangsa pilihan Allah. Di balik seruan nabi Yesaya tentang apa yang tadi kita baca: “Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalan-Ku bukanlah jalanmu”, ada sebuah fakta sejarah yang sangat menarik dan berharga untuk dijadikan pengajaran bagi kita semua. Kitab nabi Yesaya merupakan salah satu kitab nabi besar selain Yeremia, Yeheskiel dan Daniel yang di dalamnya memberi gambaran tentang perjalanan Israel dalam beberapa bagian. Pada pasal 1-39, kitab ini memberi kita gambaran tentang bagaimana nabi Yesaya bernubuat akan malapetaka yang akan terjadi menimpa Yehuda dan Israel, yang hidup dalam kebobrokan moral dan kemerosotan agama, karena telah hidup jauh dari perintah dan kehendak Tuhan, melainkan hidup menurut apa kata raja dan orang-orang di sekitar mereka. Sedangkan bagian selanjutnya, yakni pasal 40-60, memberikan gambaran tentang situasi yang dialami Israel dan Yehuda di pembuangan, serta nubuat akan kelepasan yang akan dinyatakan Allah pada masanya. Bagian bacaan kita hari ini dari Yesaya 55:8-9, masuk dalam bagian kedua yang menceriterakan tentang keadaan Israel dan Yehuda di pembuangan, serta berita akan tibanya kelepasan dari orang yang diurapi Tuhan (Mesias). Menjadi pertanyaan bagi kita semua, apa yang menyebabkan Israel ditawan ke pembuangan? Ada banyak alasan yang dapat dikemukakan. Namun apapun penyebabnya, semua penyebab itu mengerucut pada satu poin mendasar, yakni: “karena mereka telah hidup jauh dari Tuhan dan menuruti kehendak mereka sendiri”. Alhasil, sikap ini pada akhirnya membawa malapetaka pada diri mereka. Mengapa mereka meninggalkan Tuhan dan jalan yang selama ini menjadi jalan kebaikan mereka? Itu karena pemimpin mereka, entah sebagai pemimpin pemerintahan dan pemimpin agama, tidak lagi mendengarkan suara Tuhan yang telah menuntun, membimbing serta mengarahkan mereka, tapi justru mendengarkan suara dari bangsa-bangsa di sekitar mereka yang tidak hidup di dalam Tuhan.
Pada saat mereka telah meninggalkan Tuhan dan perintahnya, pada saat itulah, mereka telah berpaling dari Allah dan sekaligus berbalik arah dari jalan yang selama ini mereka lalui. Konsekuensi dari pembangkangan Israel itu, Tuhan pun murka dan mengambil sikap terhadap Israel. Allah, dengan menggunakan perantaraan bangsa lain menyatakan “pengajaran-Nya” kepada Israel, dengan mendatangkan Asyur menawan Israel, serta Babel untuk menawan Yehuda. Dalam masa pembuangan itu pun, Israel tetap saja merasa tidak bersalah, malah sebalikanya, mereka masih saja menyalahkan Tuhan atas apa yang mereka alami. Namun pada akhirnya, mereka menyadari jika apa yang mereka alami, bukanlah sebuah hal yang buruk dari Tuhan. Dalam suasana kesadaran itulah, nabi Yesaya datang dan menyampaikan pesan Tuhan tentang apa yang dialami oleh Israel itu adalah sebuah pelajaran yang sangat berharga dari Tuhan. Karena itulah bacaan kita berbunyi “sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu”. Ya, rancangan yang Tuhan sediakan bagi Israel, adalah rancangan yang Tuhan buat untuk kebaikan Israel. Meskipun mungkin itu adalah sebuah rancangan yang di dalamnya ada pergumulan dan penderitaan, yakni, mereka harus ditawan ke bangsa Asyur dan Babel, tapi itu adalah rencana yang mulia dari Tuhan bagi Israel yang pernah hidup jauh dari Tuhan. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu. Ya, jalan Tuhan kadang tak terselami. Ada banyak hal yang tidak dimengerti oleh Israel ketika Tuhan “membuang” Israel ke Asyur dan Babel. Namun pada akhirnya, rencana dan rancangan Tuhan inilah yang terbaik bagi Israel. Tuhan mengizinkan itu terjadi agar Israel kemudian menyadari akan kesalahan yang pernah dibuat oleh para nenek moyang mereka yang telah memberontak dan membelakangi Tuhan. Di balik rancangan pembuangan Israel tersebut, ada rencana indah lainnya yang Tuhan sediakan bagi mereka. Kita dapat membayangkan, akan apa jadinya Israel jika Tuhan tidak mengizinkan mereka untuk mengalami hal itu. Yang pasti bagi kita semua bahwa, rancangan, rencana dan jalan Tuhan itu, pada akhirnya akan mendatangkan kebaikan, meskipun kita mungkin  sementara mengalami hal-hal yang sulit dalam hidup.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Setiap kita yang hadir saat ini, pasti memiliki impian dan cita-cita yang telah kita tanamkan semenjak kita kecil hingga hari ini. Dan sangat wajar, jika semua kita yang hadir, berharap agar setiap cita-cita dan impian tersebut bisa tercapai. Nah, untuk mencapai cita-cita tersebut, setiap orang mesti memiliki rencana dan tahapan-tahapan yang ditetapkan dalam rangka mencapai cita-cita tersebut. Dalam bahasa yang lebih sederhana, kita kemudian menetapkan rencana-rencana yang diharapakan dapat membawa kita pada cita-cita yang diharapakan. Namun tidak dapat disangkali, jika kita sering menghadapi berbagai persoalan dan pengujian, yang kadang-kadang membuat kita merasa ditinggalkan. Terlalu sering kita merasa, Tuhan telah membiarkan kehidupan kita, karena yang kita alami itu adalah hal-hal yang sulit saja. Persoalan datang silih berganti. Ada masalah pribadi, ada masalah keuangan, ada masalah keluarga, ada masalah pekerjaan, dan masalah-masalah lain yang sering membuat kita sepertinya sudah mau menyerah dengan keadaan yang kita alami. Namun, melalui bacaan kita hari ini, kita semua telah diajar bahwa, setiap hal yang kita alami dalam hidup, itu adalah bagian dari pembelajaran dan pengajaran yang Tuhan  berikan kepada kita. Mungkin sekarang kita lagi berada dalam multi krisis yang semakin menghimpit kehidupan. Jangan menyalahkan siapa-siapa untuk peristiwa tersebut. Tapi mari berusaha untuk mengevaluasi kehidupan kita belakangan ini di hadapan Tuhan. Terkadang kita melakukan kesalahan dan meninggalkan Tuhan, tapi justru kita merasa tidak bersalah, dan berbalik “menyerang” Tuhan atas persoalan yang dialami. Terlalu sering kita menuduh Tuhan, jika Dia tidak peduli lagi pada kita, padahal justru kita yang tidak lagi peduli kepada Dia. Dalam situasi seprti itulah, Tuhan selalu datang dan memakai situasi itu untuk dijadikan hal yang baik bagi umat-Nya. Setiap rancangan dan rencana kita, sudah disampaikan kepada Tuhan di dalam doa. Yakinlah, bahwa setiap permohonan itu, jika Tuhan berkati akan diberikan oleh Dia, tepat pada waktunya.  Namun, pada saat yang sama, kita harus menyadari, jika Tuhan pun memiliki rencana dan rancangan yang indah bagi kita semua. Mungkin, rencana dan rancangan-Nya itu, agak berat untuk kita lalui dan jalani, namun Tuhan memperkenankan itu agar kita menjadi lebih baik.
saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Mengakhiri renungan kita hari ini, berikut ada sebuah kisah tentang cangkir yang sangat cantik. Sepasang opa dan oma pergi belanja di sebuah toko souvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik "Lihat cangkir itu," kata si oma kepada suaminya. "Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat," ujar si opa. Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara "Terima kasih untuk perhatiannya, tapi perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah
liat yang tidak berguna. Namun suatu hari, ada seorang penjunan dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar. Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. Stop ! Stop ! Aku berteriak, Tetapi orang itu berkata "belum !" lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. Stop! Stop ! teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas ! Panas ! Teriakku dengan keras. Stop ! Cukup ! Teriakku lagi. Tapi orang ini berkata "belum !"Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop ! Stop ! Aku berteriak. Wanita itu berkata "belum !" Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya! Tolong! Hentikan penyiksaan ini ! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku. Ia terus membakarku. Setelah puas "menyiksaku" kini aku
dibiarkan dingin. Setelah benar-benar dingin seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku lalu melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku. Saudara, seperti inilah Allah membentuk kita. Pada saat Ia membentuk kita, tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah satu-satunya cara, rencana dan rancangan dari Allah untuk mengubah kita supaya menjadi cantik, baik dan memancarkan kemuliaan Allah. Yak 1 : 2 - 4 "Saudara-saudaraKu, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai pencobaan, sebab kamu tahu bahwa UJIAN terhadap IMANMU menghasilkan KETEKUNAN. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya kamu MENJADI SEMPURNA dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun."Apabila anda sedang menghadapi ujian hidup, jangan kecil hati, karena Allah sedang membentuk anda.
Bentukan - bentukan ini memang menyakitkan tetapi setelah semua proses itu selesai, anda akan melihat betapa cantiknya Allah membentuk anda, itu karena Dia memiliki rencana dan rancangan yang sangat indah bagi umat-Nya yang tetap setia di jalan-Nya. AMIN.

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK YANG BERENCANA



KHOTBAH PERSIAPAN SUATU ACARA

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK YANG BERENCANA
(Mazmur 127 : 1 – 5, Nats. Ayat 2)

Kita semua tahu, bahwa setiap orang tentunya mengharapkan sesuatu yang terbaik dalam hidupnya. Manusia memiliki naluri atau kepekaan tentang hari esok. Artinya, setiap orang selalu menginginkan kiranya hidupnya selalu mengalami perkembangan ke  arah yang lebih baik dari hari ke hari; hari ini lebih baik dari hari kemarin, hari esok lebih baik dari hari ini, dan seterusnya. Oleh karena itu, manusia selalu bergumul,berpikir dan bekerja serta berusaha membuat perencanaan-perencanaan dalam hidupnya. Memang, dalam realitanya; ada yang berhasil. Tetapi tidak dapat juga disangkali bahwa seringkali rencana itu berakhir dengan kurang menyenangkan karena banyak hal yang terjadi dan muncul tidak sesuai dengan yang diharapkan, walaupun sebelumnya mungkin diyakini bahwa semuanya pasti berhasil karena sudah direncanakan dan dipersiapkan dengan matang. Akibatnya, tidak jarang, ada orang yang putus asa atau malah stress karena tidak siap menerima kegagalan tersebut.Kalau demikian, berarti mungkin ada yang salah dalam proses perencanaan tersebut. Lalu, bagaimanakah sikap atau strategi yang seharusnya dilakukan dalam berencana?
Saudara-saudara yang dikasihi  di dalam Tuhan
Melalui pembacaan kita pada saat ini, pemazmur atau salomo menyoroti kebiasaan-kebiasaan yang keliru yang sering dilakukan manusia dalam berencana dan bekerja. Oleh karerna itu,ia memberikan penegasan tentang prinsip dasar yang tidak boleh diabaikan dalam setiap
perencanaan, yaitu mengandalkan pertolongan Tuhan. Apapun yang kita rencanakan, apapun yang kita lakukan, harus diimani bahwa jikalau bukan Tuhan yang terlibat di dalamnya maka semuanya akan sia-sia . . . (ay. 1-2). Salomo menyerukan bahwa, “Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti dengan susah payah-sebab Ia memberikannya kepada yang dicintainya ‘pada waktu tidur’ …(ay.2)!” Apa maksudnya? Apakah ayat ini hendak mengatakan bahwa kita tidak perlu berencana dan bekerja keras karena semua yang kita lakukan hanyalah kesia-siaan belaka? Bukankah  di dalam proses penciptaan; di dalam kitab kejadian sangat jelas diterangkan bahwa Allah menempatkan manusia di dunia ini dengan memberinya mandat justru untuk bekerja? 
Kemampuan untuk berencana adalah salah satu ciri khas yang diberikan oleh Allah kepada manusia.  Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling mulia diantara ciptaan Allah yang lain.  Manusia diperlengkapi dengan akal dan pikiran oleh Allah agar ia dapat merencanakan dan mengelolah kehidupannya dengan baik dan benar. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang bisa dan harus punya rencana. Mengusahakan sesuatu, perlu rencana. Berdagang, perlu rencana. Membangun rumah, perlu rencana. Membangun kota, perlu rencana. Kemampuan berencana, tidak ada pada makhluk lain selain manusia. Manusia diciptakan menurut gambar Allah, dalam pengertian; manusia diberi kemampuan untuk dapat merespon setiap keadaan atau peristiwa serta bisa membedakan yang benar dan yang salah, sehingga bisa mengenal dan melakukan tugas dan tanggung jawabnya secara benar di hadapan Allah,  dalam situasi apapun. Allah kita adalah Allah yang berencana. Oleh karena itu, kalau kita berencana, kita harus mengerti kehendak Allah. Kalau kita mau mengerti kehendak Allah maka kita harus rajin dan tekun mempelajari tentang rencana Allah melalui firman-Nya. Baik itu menyangkut rencana Allah tentang Alam semesta, rencana Allah tentang bangsa dan Negara ini, maupun rencana Allah tentang kehidupan keluarga atau pribadi kita masing-masing. Kita akan menjadi pribadi yang lebih matang atau dewasa dalam pemikiran maupun tindakan jika  kita memahami, menangkap dan mentaati semua rencana, prinsip dan cara Allah bekerja. Iya, sungguh alangkah indahnya jika setiap orang hidup taat menuruti rencana Allah. Atau dengan kata lain, selalu menjadikan firman Allah sebagai acuan dalam membuat rencana. Dengan demikian, secara otomatis menjadikan Allah sebagai  kawan sekerja dalam berencana dan berkarya serta membiarkan kehendak Allah yang terjadi dalam pekerjaan yang kita lakukan. Mengetahui kehendak Allah adalah pengetahuan terbesar. Mencari kehendak Allah adalah penemuan terbesar. Melakukan kehendak Allah adalah keberhasilan terbesar.
Ada sebuah ajaran atau paham yang mengajarkan bahwa, setelah Allah menciptakan segala sesuatu, maka Allah membiarkan dunia berjalan sendiri tanpa tujuan dan sama sekali lepas dari kontrol-Nya . Alasan ajaran ini ialah; kalau Allah mencintai dunia, mengapa dunia penuh dengan orang-orang sengsara?
Paham tersebut sangat bertolak belakang dengan prinsip iman Kristen. Orang Kristen tidak boleh mengikuti ajaran  yang tidak mengenal Allah tersebut.Orang kristen harus siap menghadapi penderitaan karena justru dengan jalan itulah imannya dibentuk dan diuji. Justru dengan adanya tantangan, kita disadarkan bahwa selaku manusia kita terbatas adanya. Karena dengan keterbatasan itulah kita dituntut untuk bergantung sepenuhnya kepada kehendak dan rencana Allah. Manusia tidak boleh mengandalkan kekuatan dan pikirannya sendiri. Dalam perjalanan hidup ini, kita harus selalu ada kesempatan untuk merenung tentang kasih setia-Nya yang ajaib, sehingga kita boleh memiliki hati yang bijak; sabar dan tekun menantikan jawaban Tuhan atas setiap rerncana-rencana kita. Sebagai pengandaian, apakah ada orang tua yang tidak merencanakan hal-hal yang baik bagi anaknya?  Demikian pun, kita harus mengerti dan mengimani bahwa, Bapa kita yang di sorga mempunyai rencana yang baik bagi kita ( Rm 8 : 28 ). Oleh Karena itu, setiap membuat rencana hendaknya kita mampu menyelami pikiran-pikiran Allah dan berusaha menyelaraskan rencana kita agar senantiasa sejalan dengan rencana Allah. Jangan mencari masa depan di luar kehendak-Nya. Berdoalah senantiasa kepada-Nya dan katakan, “ Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu…!”( yak.4 : 15 ). Dengan berdoa demikian, berarti kita memiliki strategi; membuka kesempatan seluas-luasnya sehingga otoritas (kuasa) Allah yang berlaku mutlak dalam kehidupan kita. Sebab hanya Dia yang sanggup memberi kesempurnaan atas rencana kita. Sehingga sekalipun pikiran dan tenaga kita terbatas, tetapi rencana dan karya Allah tidak terbatas. Sekalipun kita sudah capek, lalu istrahat atau tidur, namun Allah tidak pernah tidur melainkan terus berkarya untuk kebaikan umat-Nya. Sebaliknya, orang yang terus berencana dan berkarya namun tidak mengandalkan pertolongan Tuhan, sehebat dan sekuat  apapun dia, suatu saat pasti buntu dan akhirnya semua yang dilakukannya akan sia-sia.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
                Apapun usaha manusia untuk melakukan sesuatu jika mengandalkan kemampuannya sendiri, niscaya tidak akan berhasil dengan baik. Memang, tidak dapat disangkali bahwa manusia dalam hidupnya dan dalam pekerjaannya sehari-hari menerima hasil dari jerih-payahnya. Namun, sadarkah kita bahwa lewat usaha itu, Tuhanlah yang menyatakan kemurahan-Nya? Oleh sebab itu, harus diakui bahwa oleh karena pertolongan Tuhan semata-mata, kita dapat merencanakan dan melakukan segala sesuatu. Dapat dibayangkan jika seandainya Tuhan tidak menyatakan kemurahan-Nya kepada kita, seandainya Tuhan tidak memberikan kita akal dan pikiran yang sehat, sudah dapat dipastikan bahwa kita tidak dapat melakukan  apa-apa. Oleh kemurahan Tuhanlah yang dinyatakan di dalam Kristus Yesus, kita memiliki pengharapan dan masa depan yang lebih baik. Nah, dengan demikian, yakinlah bahwa melalui kuasa Roh-Nya yang kudus kemurahan Tuhan akan selalu nyata kepada semua orang yang selalu berharap kepada-Nya. 
*ILUSTRASI
 Ada sebuah ceritera tentang perlombaan lari antara kancil dan keong. Keong  selalu diejek kancil karena jalannya terlalu lamban, hingga pada suatu hari, kancil menantang keong untuk berlomba lari. Keong pun menerima tantangan kancil untuk berlomba lari dengannya di sepanjang parit pada hari yang sudah ditentukan.  Untuk mengetahui posisi keong yang akan berlari di dalam parit, kancil harus memanggilnya dan keong yang ada dalam parit akan menjawabnya, sehingga kancil yang berlari di atas parit itu tahu keong itu ada di depan atau di belakangnya. Maka pada suatu hari, dimulailah perlombaan itu. Kancil lari dengan kencangnya sepanjang pematang di atas parit, ketika sudah beberapa menit maka berserulah memanggil keong. Keong menjawabnya dari dalam parit, dan ternyata suara keong itu berada di depannya. Mengetahui bahwa dirinya masih berada di belakang keong, maka kancil menambah kecepatan larinya. Beberapa saat kemudian dipanggilnya keong lagi dan suara keong yang menjawabnya tetap berada di depannya. Ketika mendekati garis finish, kancil memanggil keong untuk terakhir kalinya dan keong menjawabnya dengan suaranya yang sudah terdengar melewati garis finish. Maka
akhirnya keong itu mampu mengalahkan kancil yang sombong itu. Sejak itu kancil tak pernah mengejeknya lagi.Mengapa keong itu berhasil mengalahkan kancil? Rahasianya adalah demikian; Setelah sepakat untuk mengadakan lomba lari, maka keong itu mengumpulkan kawan-kawannya untuk berderet-deret di sepanjang parit, pada waktu perlombaan diadakan. Jika terdengar suara kancil memanggilnya, maka yang menjawab adalah sahabatnya  yang posisinya tepat di depan kancil. Dengan strategi itulah keong itu mampu mengalahkan kancil yang sombong itu.
Menyimak ilustrasi tersebut, kita memahami bahwa kunci sukses kemenangan keong itu terletak pada sikap dan kualitas hati yang tidak mengandalkan diri sendiri. Dengan kesadaran itu, ia mampu membuat persiapan dan perencanaan yang matang, kecermatan dalam menentukan srategi dan disiplin yang tinggi. keong sangat sadar tentang keterbatasannya.  Secara lahiriah,si keong tahu bahwa ia tidak ada apa-apanya dibandingkan kemampuan si kancil, tetapi justru dengan keterbatasannya ia memiliki hikmat dan kebijaksanaan untuk mampu memanfaatkan sebuah peluang besar yang bisa menjadi kekuatannya; yaitu dengan menghadirkan sahabat-sahabatnya dalam mendukungnya merealisasikan perjuangannya. Bagi kita, Allah adalah satu-satunya  kawan  sekerja yang dapat diandalkan untuk menolong kita menjalani serangkaian rencana kehidupan kita yang penuh dengan tantangan dan pergumulan. Walaupun banyak rintangan yang kita hadapi dalam hidup ini, namun Dia selalu berada di depan untuk memberi jawab atas persoalan-persoalan hidup kita. Memberi jawaban atas rencana dan usaha kita.Oleh karena itu, jangan pernah berhenti berharap kepada-Nya.Sebab Dia mampu membuat segala sesuatu indah pada waktunya. AMIN....!