Monday, June 13, 2016

SIAP MENGHADAPI KEMATIAN


SIAP MENGHADAPI KEMATIAN
(I Raja-Raja 2:1-12)

Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan,
Menghadapi perkara kematian tentunya bukanlah suatu hal yang baru dan asing bagi kita. Setiap orang pasti pernah mengalami perpisahan karena kematian atas orang yang dikasihinya. Namun demikian, belum ada orang yang punya pengalaman langsung mengalami kematian, lalu hidup kembali dan menceritakan pengalamannya kembali dari alam maut, menjelaskan secara detail mengenai rahasia-rahasia yang ada di balik kematian..Secara medis, memang dalam beberapa kasus, ada orang yang sudah divonis mati oleh dokter, namun ternyata kemudian dinyatakan masih hidup. Peristiwa kematian seperti ini kemudian dikategorikan sebaga mati suri ( hanya pingsan), dan belum mati sepenuhnya. Oleh karenanya, kematian tetap dianggap sebagai sesuatu yang penuh misteri.
Bagi sebagian orang, kematian adalah sesuatu yang menakutkan, karena itu segala daya upaya dicoba dilakukan manusia untuk menghindari apa yang disebut kematian, namun fakta berbicara bahwa kematian tetaplah terjadi. Bahkan datangnya tidaklah memandang umur atau status seseorang. Kematian bisa datang kapan saja, dimana saja dan dalam situasi hidup yang bagaimanapun. Kalau demikian, apakah sesungguhnya kematian itu dan bagaimana menghadapinya?
Sauadara-saudara yang dikasihi Tuhan.
Melalui bacaan ini, kita dibimbing untuk belajar pada sebuah sikap iman yang telah dipraktekkan oleh seorang hamba Tuhan dalam menjalani hidupnya, dan juga dalam menghadapi kematiannya. Daud sebagai seorang raja, secara umum dikenal sebagai pribadi yang sangat taat kepada Tuhan. Terlepas dari beberapa kelemahan dan kekeliruan yang pernah dilakukannya di hadapan Tuhan sebagai manusia yang lemah. Ia telah belajar tentang banyak hal melalui pengalaman hidupnya dalam menghadapi berbagai realitas hidup yang telah dilaluinya. Teristimewa pengalamannya dalam bergaul dengan Allah. Melalui hubungan akrabnya dengan Tuhan, ia memperoleh suatu pemahaman bahwa sebagai manusia yang adalah ciptaan, tidak ada yang abadi pada dirinya. Ia diajar untuk memahami bahwa tidak ada sesuatupun yang kekal di dalam dunia ini. Baik atas kekuatan, kekayaan dan kedudukan yang dimilikinya, pun kehidupan yang sementara dijalaninya. Semuanya ada batasnya.. Hanya Allah sajalah yang abadi dan kuasa-Nya kekal. Sebab Dialah Sang Pencipta, khalik langit dan bumi.
Ia memahami bahwa hidup yang sementara  dijalaninya suatu saat akan tiba pada kematian. Namun bukan berarti bahwa hidup ini bukan tanpa tujuan dan tanpa makna. Justru melalui kehidupan yang terbatas inilah manusia ditantang untuk memaknainya secara benar sesuai ketetapan-ketetapan Allah. Yang apabila syarat dan ketentuan itu dipenuhi maka setiap orang akan dimahkotai dengan kemuliaan dan kehidupan kekal dari Allah, sekalipun orang tersebut telah meninggal.
Keyakinan inilah yang melatari segala sikap hidup Daud sehingga senantiasa berupaya menyatakan kesetiaan dan ketergantungannya kepada Allah dalam menghadapi segala situasi hidup; baik dalam suka maupun dalam duka. Daud secara sadar dan dengan penuh hikmat telah belajar untuk memaknai hidup yang dianugerahkan Allah kepadanya. Oleh imannya, Daud tidak takut ataupun gentar dalam menghadapi masa kematiannya. Bahkan secara sadar juga, ia telah mempersiapkan dirinya, keluarganya untuk bagaimana menghadapi kematiannya ketika sudah waktunya tiba.
Dikisahkan dalam bacaan ini; bahwa semasa hidupnya hingga menjelang akhir hayatnya, Daud senantiasa mempertahankan keyakinan imannya di hadapan Tuhan. Dan ia mau agar keyakinan itu boleh diwarisi oleh anak-anaknya. Oleh karena itu, saat kematiannya mendekat, ia berpesan kepada Salomo, anaknya, katanya,”Aku ini akan menempuh jalan segala yang fana, maka kuatkanlah hatimu dan berlakulah seperti laki-laki. Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap Tuhan, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkannya….,supaya engkau beruntung dalam segala yang kau lakukan dan dalam segala yang kautuju…!” (ay.1-3)
Itulah pengajaran yang sangat indah dan warisan keteladanan  yang sangat berharga yang telah ditinggalkan oleh Daud kepada anak-anaknya. Bahwa menjalani kehidupan yang Allah anugerahkan kepada kita mesti dimaknai secara baik dan benar dengan melakukan praktek hidup yang sesuai dengan ketetapan atau perintah Allah. Dan ketika ajal menjemput, mengantar pada kematian, maka itu harus dihadapi dengan kesiapan iman tanpa mesti takut atau kuatir. Karena ada jaminan pengharapan bahwa di balik segala kesetiaan iman yang dinyatakan di hadapan Allah, Allahpun telah mempersiapkan sebuah mahkota kehidupan yang kekal sehingga kita senantiasa disebut sebagai orang yang beruntung. Sebab hidup yang kita jalani dengan ketaatan kepada Allah selama kita di dunia ini akan bermuarah pada tujuan yang sangat mulia, yaitu kehidupan yang kekal di sorga kelak.
Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan,
Menghadapi suasana duka atas kepergian orang yang kita kasihi, marilah kita belajar meneladani sikap iman yang telah dipraktekkan oleh Daud. Bahwa menghadapi setiap peristiwa kematian; baik yang telah terjadi atas orang yang kita kasihi, maupun kematian yang suatu saat juga akan kita hadapi secara langsung, hendaklah kita menghadapinya dengan sikap iman yang teguh, supaya kita tidak kehilangan pengharapan dan tujuan hidup. Bahkan biarlah peristiwa kematian ini senantiasa menjadi perenungan bagi kita yang masih hidup untuk senantiasa mawas diri dan tidak larut dalam perkara-perkara duniawi di sini semata-mata, melainkan juga secara arif dan bijkasana mempersiapkan masa depan kita di dunia akhirat, yaitu sorga. Memang, belum ada seorang pun yang pernah mamiliki pengalaman tentang kematian dan menjelaskannya kepada kita mengenai segala rahasia di balik kematian. Namun satu yang pasti, bahwa Allah sendiri telah membuka rahasia itu kepada manusia melalui kematian dan kebangkitan anak-Nya yang tunggal, yaitu Yesus Kristus.
“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu. Yaitu kamu, yang sementara dipelihara dalam kekuatan Allah oleh imanmu, sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada akhir zaman.” Amin!



1 comment:

  1. KISAH CERITA AYAH SAYA SEMBUH BERKAT BANTUAN ABAH HJ MALIK IBRAHIM

    Assalamualaikum saya atas nama Rany anak dari bapak Bambang saya ingin berbagi cerita masalah penyakit yang di derita ayah saya, ayah saya sudah 5 tahun menderita penyakit aneh yang tidak masuk akal, bahkan ayah saya tidak aktif kerja selama 5 tahun gara gara penyakit yang di deritanya, singkat cerita suatu hari waktu itu saya bermain di rmh temen saya dan kebetulan saya ada waktu itu di saat proses pengobatan ibu temen saya lewat HP , percaya nda percaya subahana lah di hari itu juga mama temen saya langsung berjalan yang dulu'nya cuma duduk di kursi rodah selama 3 tahun,singkat cerita semua orang yang waktu itu menyaksikan pengobatan bapak kyai hj Malik lewat ponsel, betul betul kaget karena mama temen saya langsung berjalan setelah di sampaikan kepada hj Malik untuk berjalan,subahanallah, dan saya juga memberanikan diri meminta no hp bapak kyai hj malik, dan sesampainya saya di rmh saya juga memberanikan diri untuk menghubungi kyai hj Malik dan menyampaikan penyakit yang di derita ayah saya, dan setelah saya melakukan apa yang di perintahkan sama BPK kyai hj Malik, 1 jam kemudian Alhamdulillah bapak saya juga langsung sembuh dari penyakitnya lewat doa bapak kyai hj Malik kepada Allah subahanallah wataala ,Alhamdulillah berkat bantuan bpk ustad kyai hj Malik sekarang ayah saya sudah sembuh dari penyakit yang di deritanya selama 5 tahun, bagi saudara/i yang mau di bantu penyembuhan masalah penyakit gaib non gaib anda bisa konsultasi langsung kepada bapak kyai hj Malik no hp WA beliau 0823-5240-6469 semoga lewat bantuan beliau anda bisa terbebas dari penyakit anda. Terima kasih

    ReplyDelete