Sunday, June 12, 2016

HENDAKLAH HATIMU MELIMPAH DENGAN SYUKUR

HENDAKLAH HATIMU MELIMPAH DENGAN SYUKUR
( Kolose 2:6-7)

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Kalau kita berbicara mengenai hal mengucap syukur, mungkin banyak orang berpikir bahwa mengucap syukur adalah perkara yang gampang saja dilakukan karena hanya sekedar diucapkan lewat bibir. Namun sesungguhnya perkara mengucap syukur tidaklah sesederhana itu. Terbukti, dalam realitanya, mengucap syukur masih merupakan suatu perkara yang sulit kita lakukan dalam kehidupan kita.  Jangankan dalam kondisi susah dan berbeban berat, saat segala sesuatu berjalan dengan baik dan normal pun ternyata kita begitu sulit untuk mengucap syukur. Bahkan lebih banyak kita melupakannya. 
Jika kita teliti, banyak sekali penjelasan dalam firman Tuhan yang membahas tentang arti atau hakekat ucapan syukur.  Antara lain, kita dapat belajar dari kisah hidup Rasul Paulus yang merupakan perwujudan langsung dari rasa syukurnya atas segala kasih karunia Tuhan. Paulus adalah seorang rasul yang telah mengabdikan seluruh hidupnya di hadapan Tuhan sebagai pembuktian atas kesediaannya setia berjerih lelah dalam pelayanan. Dalam surat-suratnya, rasul Paulus secara panjang lebar memaparkan bahwa ada begitu banyak hambatan, tantangan dan ancaman yang silih berganti ia alami sekaitan dengan tugas kesaksian dan pelayanannya. Tetapi dari mulutnya tidak pernah sepatah kata pun keluar kata-kata sungutan, umpatan, frustrasi dan putus asa.
Malah dalam situasi yang sedemikian rumit, Rasul Paulus mampu memberi motivasi kepada segenap orang percaya supaya mereka senantiasa mengucap syukur dalam segala situasi hidup. Sebab dengan selalu mengucap syukur, sebenarnya kita memperlihatkan kualitas pertumbuhan rohani kita. Penampakan pertumbuhan rohani ini sekaligus juga menunjuk kepada kualitas kedewasaan iman kita. Kalau kita tidak pernah mengucap syukur atau malah sering bersungut-sungut dalam hidup, berarti iman kita tidak bertumbuh, kerohanian kita menjadi kerdil, bahkan mungkin sudah mati. Rasul Paulus menulis: "Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur" (ay. 6-7).
Artinya, hal mengucap syukur sesungguhnya merupakan suatu elemen penting dalam kehidupan orang percaya yang tidak boleh diabaikan dan disepelekan.  Karena melalui ucapan syukur, kita menyatakan iman pengharapan dan ketergantungan kita kepada Allah sebagai Sang pemilik dan pemberi kehidupan. Melalui ucapan syukur yang kita nyatakan, berarti kita juga mau memberi diri untuk dipakai oleh Allah. Oleh hikmat dari Allah, seluruh sikap hidup dan kata-kata kita dapat menjadi berkat bagi setiap orang yang kita jumpai.
Kita mengucap syukur bukan karena tergantung pada keadaan secara lahiriah; baik atau buruk, tetapi kita mengucap syukur karena kita memiliki Tuhan yang layak untuk diandalkan menopang kita dalam menghadapi segala tantangan dan situasi hidup; bahwa sekalipun keadaannya buruk, Tuhan pasti menolong dan menunjukkan kebaikan-Nya kepada kita. Demikianlah hendaknya sikap hidup setiap pribadi yang telah mewarisi karakter yang dibentuk di dalam Kristus. Keyakinan iman yang tidak tergoyahkan, sekalipun dalam situasi yang kurang bersahabat. Apa yang Rasul Paulus telah ajarkan dan praktekkan merupakan teladan bagi kita sebagai anak-anak terang. Melalui cara hidup yang senantiasa mengucap syukur, kita menampilkan karakter atau kepribadian yang selalu membawa energi positif. Cara pandang dan cara pikir yang demikian akan mampu mengubah keadaan dari negatif menjadi positif, dari buruk menjadi baik.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Bila  kita merenungkan kasih dan kebaikan Tuhan, sesungguhnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mengucap syukur kepada-Nya, bahkan ucapan syukur itu semestinya seperti nafas hidup kita yang tak pernah berhenti berhembus selama kita masih hidup.  Namun seringkali ucapan syukur keluar dari mulut kita hanya saat kita menikmati dan mengalami hal-hal yang baik dari Tuhan.  Ketika hal-hal yang tidak baik  (menurut penilaian kita)  terjadi dan menimpa hidup kita, sulit sekali kita mengucap syukur kepada Tuhan. Sebaliknya, yang keluar dari bibir kita hanya ungkapan kekecewaan, kekesalan, keputusasaan, sungut-sungut, omelan dan bahkan kita terkadang menyalahkan Tuhan.
Hal-hal yang baik atau buruk, keberhasilan atau kegagalan, sakit atau sehat, dalam kelimpahan atau kekurangan, suka atau duka, adalah sebuah dinamika yg akan selalu mewarnai perjalanan kehidupan kita selaku manusia.  Namun satu hal yang harus senantiasa menjadi keyakinan kita ialah bahwa,  "...Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan"  (Roma 8:28). Karena itu, tetaplah mengucap syukur apa pun keadaannya. Sebab itulah yang membedakan kita sebagai orang percaya dengan orang yang tidak mengenal Tuhan. Membangun kesadaran hati yang bersyukur kepada Tuhan akan menjadi mudah kalau kita senantiasa mau melihat seluruh kebaikan Tuhan atas hidup kita melalui mata iman.
Bagaimana kita menyatakan syukur kita? Tidak lain adalah dengan senantiasa menyatakan sikap hati yang benar dan sikap hidup yang berkenan di hadapan Tuhan. Itu berarti, hal mengucap syukur bukan sekedar ucapan pemanis di bibir, namun lebih pada soal pemaknaan hidup sebagai bentuk penghayatan iman yang sungguh tentang kebesaran kasih Tuhan di dalam Kristus Yesus yang telah menyelamatkan kita. Oleh karena itu, hanya dengan tetap hidup di dalam Kristus, berakar dan dibentuk di dalam Dia, hati kita senantiasa mengalami limpahan syukur.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Ada sebuah cerita yang dapat dijadikan sebagai ilustrasi untuk menjelaskan bagaimana seseorang harus bersyukur dalam situasi apa pun dalam hidunya. Diceritakan, ada seorang raja yang gemar berburu dengan pengawalnya. Pada suatu hari ketika sang raja sedang berburu, ia mendapatkan kecelakaan dan sungguh malang,  ibu jari tangan sang raja terpotong oleh sabetan pisau yang sangat tajam hingga harus kehilangan jari jempolnya. Sang raja sangat marah dan memanggil pengawalnya yang setia menemaninya berburu. Sesampainya di istana, dia berkata kepada pengawalnya, “bagaimana denganmu sebagai pengawal, aku kehilangan jari jempolku, kenapakah engkau tidak menjagaku dengan benar, tidak kah kau tahu, aku sangat membutuhkan jari jempolku?” Maka sang pengawal berkata,” Tuanku baginda raja, yang sudah terjadi, relahkanlah dan bersyukurlah tuanku baginda raja, sebab yang hilang hanya jari jempol, untung saja bukan nyawa raja yang hilang”.
Akibat perkataan sang pengawal yang dianggap kurang ajar itu,sang raja sangat marah dan menyuruh pengawal yang lain menangkap dan memenjarakan pengawal tersebut. Setelah peristiwa tersebut, ternyata sang raja tidak meninggalkan kebiasannya berburu. Hingg pada suatu hari,  ia dan pengawalnya masuk ke dalam hutan yang sangat lebat dan mereka tertangkap oleh suku primitif yang memiliki tradisi mempersembahkan manusia sebagai korban persembahan kepada dewa mereka. Setelah sampai pada waktu memberikan korban persembahan kepada dewa, mereka memulainya dari raja, namun mereka melapaskan raja karena sang raja tidak memiliki jempol, dan dianggap tidak sempurna. Dan semua pengawalnya di jadikan korban persembahan kepada dewa  karena memiliki organ tubuh yang lengkap.
Singkat cerita sang raja kembali ke istana dengan selamat dan meyuruh pengawalnya untuk melepaskan pengawal yg dulu ia penjarakan. Setelah pengawal tersebut menghadap raja, sang raja berkata, ”pengawalku yang baik, aku bersyukur karena dulu aku kehilangan jempol,  dan olehnya aku dapat luput dari kebinasaan. Terimakasih untuk nasehatnya dan maafkan aku telah memenjarakanmu”. Tapi sang pengawal berkata kepada raja, “Tuanku baginda raja, aku lebih bersyukur lagi dan berterima kasih kepada raja, jika seandainya aku tidak dipenjarakan oleh raja, mungkin aku juga telah mati karena dijadikan persembahan oleh suku primitif, seperti yang dialami para pengawal yang lain”. Sang raja kemudian berkata, “baiklah, mari kita sama-sama bersyukur”.
Ilustrasi dalam cerita ini hendak memberi pesan kepada kita bahwa, bersyukurlah atas segala apa yang terjadi di dalam kehidupan kita, karena sebenarnya semua itu mendatangkan kebaikan kepada kita walaupun saat ini kita belum dapat menyelaminya. Mungkin ada yang tidak terlalu suka kepada kita, bersyukurlah..! Kita memiliki banyak sahabat, bersyukurlah..! Kita memiliki harta yang banyak, bersyukurlah..! Kita belum memiliki banyak hal seperti yang kita harapakan,  bersyukurlah..! Kita mengalami suka cita, bersyukurlah..! Intinya, hendaklah hatimu senantiasa melimpah dengan syukur..!  Amin!



PERINTAH ALLAH DALAM PERNIKAHAN


PERINTAH ALLAH DALAM PERNIKAHAN
(Efesus 5:22-28)

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Menjalani kehidupan kita sebagai manusia di dunia bukanlah sebuah kehidupan yang kebetulan, atau tanpa tujuan. Kehidupan yang kita jalani melalui berbagai aktifitas setiap saat adalah sebuah kehidupan  yang direncakan dan dirancang oleh Allah sendiri untuk sebuah tujuan yang sangat mulia, yaitu melayani dan memuliakan Allah. Manusia adalah mandataris Allah yang dipanggil untuk mengambil peran merealisasikan tujuan kehidupan itu di dalam dunia. Dan di balik mandat tersebut, Allah memperlengkapi manusia dengan akal pikiran dan sarana-sarana lainnya. Oleh karena itu, manusia diberi predikat sebagai ciptaan Allah yang paling mulia.
Ada begitu banyak perintah Tuhan yang dijabarkan dalam Alkitab sebagai tugas panggilan bagi manusia untuk dilakukan demi pencapaian tujuan di balik rencana Allah. Salah satunya adalah melalui tanggungjawab suami dan istri dalam sebuah ikatan pernikahan.
Sebelum melaksanakan pelayanan pemberkatan nikah, biasanya majelis gereja memanggil kedua pasangan calon mempelai mengikuti katekisasi nikah. Dan dalam percakapan tersebut, ada beberapa pertanyaan yang sering diajukan kepada mereka untuk dijjawab dan digumuli, antara lain: “Kenapa mereka ingin menikah? Atau apa motivasi mereka menikah? Apa sesungguhnya tujuan Allah di balik pernikahan? Pertanyaan-pertanyaan ini kelihatan sepele, tetapi memiliki makna yang begitu dalam. Menjawab pertanyaan tersebut, tentunya ada berbagai macam argumen penjelasan yang bisa dilontarkan sebagai jawaban atasnya.
            Melalui pembacaan ini, kita dapat melihat beberapa pokok penting yang perlu kita pahami dalam kaitannya dengan tanggungjawab di balik pernikahan dalam membangun sebuah keluarga. Pernikahan adalah relasi dua arah dan seimbang. Kedudukan suami tidak lebih tinggi daripada istri. Begitu juga kedudukan istri tidak lebih tinggi daripada suami. Yang satu tidak lengkap tanpa yang lain. Pernikahan adalah sebuah panggilan bagi masing-masing, suami dan istri, untuk melakukan yang terbaik bagi pasangannya.  Dari bacaan kita, setidaknya ada dua (2) hal sebagai perintah dari Allah yang dapat kita renungkan dan praktekkan sebagai kunci keberhasilan dalam membangun sebuah pernikahan kudus:

Perintah untuk tunduk kepada suami
Apa yang mendasari sehingga istri harus tunduk kepada suaminya? Apakah makna sesungguhnya dari kata ‘tunduk’ di sini? Tunduk adalah syarat keanggotaan dalam suatu persekutuan, termasuk persekutuan dalam keluarga. Tanpa ketundukan, mustahil tercipta kerukunan, ketertiban dan keharmonisan. Tunduk adalah perintah yang Tuhan berikan kepada istri agar dapat menghargai peran suami selaku imam dan pemimpin dalam rumah-tangga. Hanya dengan menerapkan sikap ini hubungan keduanya akan senantiasa langgeng. Tunduk tidak berarti tidak berpendapat, namun lebih pada pengertian menaruh rasa hormat. Sebab pernikahan sejati adalah sebuah penyatuan antara laki-laki dan perempuan; lahir dan batin.
Istri tunduk kepada suami bukan berarti istri boleh diperlakukan sewenang-wenang oleh suaminya, melainkan sebuah cerminan kasih dan penjabaran dari ketaatan kepada Tuhan. Sebab jika seseorang istri tidak tunduk kepada suami sebagai  wakil Tuhan maka otomatis hidupnya akan kacau dan tidak memiliki tujuan.

Perintah untuk Mengasihi istri
Allah telah menetapkan keluarga sebagai kesatuan dasar sebuah masyarakat. Setiap keluarga harus mempunyai seorang pemimpin. Dalam Alkitab, suami adalah pemimpin di dalam rumah-tangganya, dan ia berkewajiban untuk mengasihi istri dan anak-anaknya. Hal ini adalah sebuah tanggungjawab dari Allah. Oleh karena itu, sifatnya mutlak dan bukan sebuah pilihan. Seorang laki-laki yang baru menikah tidak dalam posisi dimana ia bisa memilih apakah ia ingin mengasihi istrinya atau tidak. Dia harus mengasihi istrinya seperti dirinya sendiri, sesuai dengan firman Tuhan. Tidak ada tawar-menawar. Tidak bisa seorang suami berkata, “Ah, hari ini saya istrahat untuk mengasihi istri saya.”, atau “Istri saya hari ini kurang menarik penampilannya, saya malas mengasihi dia hari ini.” Tidak bisa! Mengasihi adalah sesuatu yang mutlak harus dilakukan karena merupakan perintah langsung dari Tuhan. Hal yang sama berlaku juga untuk istri yang telah ditetapkan Tuhan untuk menjadi penopang dan penolong sang suaminya.
Kasih Kristus adalah dasar yang kuat dalam membangun keutuhan rumah-tangga. Mengasihi adalah kesedian untuk mau berkorban. Kasih yang sejati selalu ditandai dengan pengorbanan dan pengabdian yang tulus. Suami yang mengasihi istrinya selalu berusaha menyenangkan dan membahagiakan istrinya, sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran firman Tuhan. Suami haruslah memberi perhatian bagi kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani istrinya dan anak-anaknya. Tanggungjawabnya yang pertama adalah mendorong istrinya agar mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan, tentunya setelah suami mempunyai hubungan yang baik pula dengan Tuhan .
Mengasihi adalah kemampuan dalam mempertanggungjawabkan kuasa dari Tuhan dengan kerendahan hati (Yoh. 13:3-4). Kekuasaan dalam rumah tangga harus tetap berada pada suami, karena memang sudah diberikan kepadanya. Tetapi haruslah dirasakan bukan sebagai haknya, tetapi sebagai kewajibannya. Jangan pernah memikirkan kekuasaan tanpa memikirkan tanggung jawabnya. Para suami harus membuang keangkuhannya, ego. Seperti Tuhan Yesus sendiri telah merendahkan diri kepada para murid-Nya. 

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Dengan memperhatikan dan mempraktekkan prinsip-prinsip yang telah diuraikan tersebut, maka setiap keluarga yang telah diikat dalam sebuah janji pernikahan kudus akan mengalami pertumbuhan rohani. Pertumbuhan mengakibatkan seseorang menghasilkan buah-buah yang baik dan memampukan dirinya untuk kuat menghadapi setiap godaan dan pergumulan.Karena mereka dimampukan dalam mendengarkan suara Tuhan dan menangkap apa yang Tuhan inginkan untuk mereka lakukan dalam kehidupan rumah-tangga segenap hidupnya.
Ketika rasa saling menghormati dan saling mengasihi sungguh-sungguh dinyatakan sebagai karakter diri dan budaya diri dalam keluarga, maka di situ akan melahirkan kebahagiaan hidup. Dan ketika kebahagiaan hidup telah dinikmati, berarti Allah telah dimuliakan dalam rumah tangga tersebut. Itu berarti tujuan di balik rencana dan rancangan Allah atas pernikahan telah dipenuhi.
Semoga Roh Kudus memampukan setiap rumah-tangga Kristen untuk senantiasa mau menjadi sarana di mana Allah hadir menyatakan rencana dan kehendak-Nya.  Alangkah indahnya sebuah rumah tangga yang di dalamnya satu sama lainnya terdorong untuk saling menghormati dan saling melayani di dalam kasih. Sebab di mana ada kasih dinyatakan, ke sanalah Tuhan mencurahkan berkat-Nya. Amin!




Tuesday, June 7, 2016

Hikmat Menuntun kepada Kebenaran

Hikmat Menuntun kepada Kebenaran
Pemahaman terhadap teks
Bagi sebagian orang, hikmat mungkin merupakan sesuatu yang abstrak, tetapi dalam diri orang-orang tertentu hikmat adalah realitas yang hidup. Hikmat dapat didefinisikan sebagai kemampuan/kepandaian dalam menjalankan kehidupan berdasarkan kebenaran Allah. Beberapa orang bijak yang dikisahkan dalam Alkitab telah mempraktekkannya menjadi gambaran-gambaran yang lebih kongkrit.
Kitab Amsal sebagian besar ditulis oleh Salomo (dan Salomolah yang lebih menonjol). Kalau Daud dikenal sebagai sumber tradisi bermazmur di Israel, maka Salomo dikenal sebagai sumber tradisi hikmat di Israel. Salomo menghasilkan 3000 amsal dan 1005 kidung semasa hidupnya.
Tema sentral yang disampaikan dalam kitab amsal adalah ajakan berhikmat untuk hidup dengan benar. Sebuah hikmat yang berawal dari sikap hidup yang mau tunduk dengan penuh kerendahan hati kepada kedaulatan Allah.  Amsal merupakan terjemahan dari kata ‘marshal’ (bahasa Ibrani) yang berarti; ucapan orang bijak, perumpamaan, atau peribahasa berhikmat. Amsal- amsal ini digubah untuk mengajar umat Allah; tentang bagaimana hidup yang berhikmat; menyenangkan Dia dengan menjauhi praktek hidup dalam dosa. Dalam kitab  amsal, pasal 8 hikmat dipersonifikasikan (dilukisakan seperti orang) bagaikan suara yang berseru-seru menyapa setiap orang di tempat-tempat terbuka, yang aktif mengundang; dari ketinggian, di persimpangan jalan-jalan, di samping pintu-pintu gerbang, pada jalan masuk di depan kota, agar semua orang memiliki kesempatan untuk mendengar panggilannya dan meresponnya dengan benar (1-4). Panggilan hikmat disertai pemberitahuan tentang dampak positif yang akan diterima orang yang menghiraukannya. Hikmat memanggil siapa saja, termasuk orang-orang bodoh dan tak berpengalaman (5). Panggilan hikmat adalah panggilan untuk menerima tuntunan. Hikmat memanggil orang agar hidup dalam kebenaran (7).
Pada bagian sebelumnya (Amsal 1:20-33), panggilan hikmat disertai dengan pemberitahuan mengenai akibat buruk yang akan menimpa orang yang mengabaikannya. Kepada mereka yang mau mendengar, hikmat berjanji akan menyingkapkan kebenaran dan keadilan (7-8). Orang yang beroleh hikmat akan memperoleh sesuatu yang benar. Beroleh hikmat berarti beroleh sesuatu yang jauh lebih berharga daripada hal-hal yang dipandang berharga oleh dunia ini (11). Sekedar untuk diingat kembali, pada permulaan masa pemerintahannya, Salomo berdoa memohon hikmat dari Allah dan Allah mengabulkannya. Bahkan ia bukan hanya memperoleh hikmat tetapi juga kekayaan, kehormatan, dan umur panjang (1Raj. 2:9-13). Hikmat menawarkan hidup yang jauh lebih berkualitas dan bermakna. Hikmat menawarkan kepandaian dan pengetahuan yang benar untuk menjalani hidup (9-10, 12).
Hikmat yang dikisahkan dalam amsal pasal 8 diwujudkan dengan cara yang lebih sempurna melalui perwujudan logos (firman) di dalam diri Yesus Kristus  (band.Yoh. 1:1-18). Dengan menggunakan istilah firman, Yohanes memperkenalkan Yesus sebagai Sabda Allah yang telah menjadi pribadi yang nyata. Alkitab menyatakan Yesus Kristus sebagai “pelbagai ragam hikmat Allah” (I Kor.1:30, Ef. 3:10-11; Kol.2:2-3).
Menurut Yoh.16:12-15, Hanya ketika hikmat Allah memasuki hati kita, yaitu; motivasi, keinginan dan pikiran-Nya, maka kita bisa memiliki juga hikmat dan pengetahuan yang menuntun pada kebenaran hidup. Kristus tidak merahasiakan ajaran/kebenaran tertentu (Yoh.16:12), tetapi memang ada hal yang tidak dapat dipahami oleh orang-orang tertentu. Hal tersebut hanya dapat dipahami oleh orang yang taat, dan mempunyai suatu tingkat kedewasaan rohani. Untuk mencapai hal tersebut maka hanya Roh Allahlah, yang adalah Roh kebenaran akan bekerja dalam hati kita setiap saat dan dalam segala situasi hidup ( Yoh. 16:13-15).Dalam injil Yohanes, diberitakan bahwa Yesus sebelum ‘kenaikan-Nya ke sorga’ menjanjikan akan datangnya Roh Kudus (melalui hari pentakosta) yang diidentifikasi sebagai Roh hikmat yang mampu menghibur dan menuntun pada pengelolaan kehidupan yang berkenan bagi Allah.
Dalam Roma 5 : 1-11, Rasul Paulus menjelakan kepada jemaat di Roma tentang arti kehidupan orang Kristen yang telah menerima kemuliaan karena pembenaran dari Allah dalam iman kepada Kristus Yesus. Surat ini ditulis  Paulus melalui asistennya, Tertius, menjelang rencananya untuk kembali dari Korintus ke Yerusalem dalam rangka perayaan hari Pentakosta. Menurutnya, orang Kristen senantiasa mengalami kasih Allah dalam hati mereka melalui Roh Kudus, khususnya dalam menghadapi masa-masa sulit. Kata kerja ‘dicurahkan’ (ay.5) menyatakan suatu keadaan yang terus berlangsung sebagai hasil suatu tindakan sebelumnya; yaitu Roh Kudus terus menerus membanjiri hati kita dengan kasih. Pengenalan akan kasih Allah ini memberikan kepada kita suatu ‘kepandaian’ (hikmat) dalam menghadapi segala kenyataan hidup termasuk ‘kesengsaraan’, dan meyakinkan kita bahwa pengharapan kita di dalam Kristus Yesus bukanlah pengharapan yang kosong namun pasti. Paulus menyebutkan ‘kesengsaraan’ sebagai suatu ‘berkat’. Sebab kesengsaraan akan menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan sebab kasih karunia dan hikmat Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh kudus.

Pokok-Pokok yang dapat dikembangkan
Pada mulanya manusia diciptakan segambar dengan Allah. Bahkan hampir sama dengan Allah (Band. Maz 8:6, dan. PGT bab III butir 1-4). Konsekuensi dari kesegambaran ini memungkinkan manusia dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat; termasuk didalamnya dianugerahi  hikmat/pengetahuan, sebagaimana hakekat Allah yang adalah sumber hikmat. Dengan hikmat dari Allah manusia dimungkinkan untuk mengembangkan kehidupan yang benar di hadapan Tuhan.
Namun fakta kejatuhan manusia kedalam dosa merupakan suatu hal yang tidak terbantahkan dalam perjalanan sejarah kehidupan umat manusia (band. PGT bab III). Karena dosa, eksistensi kesegambaran manusia dengan Allah rusak, yang otomatis juga mengakibatkan manusia kehilangan kemuliaan dan hormat dari Allah; termasuk didalamnya kehilangan hikmat. Sebagai konsekuensi, manusia tidak lagi memiliki pengetahuan untuk hidup dengan benar di hadapan Allah.
Melalui banyak cara, termasuk melaui beberapa hamba-Nya yang diutus, Allah senantiasa menyerukan secara terbuka kepada seluruh umat manusia tentang panggilan untuk datang kembali kepada sumber hikmat yaitu Allah (Amsal pasal 8) namun manusia justru mencari kebenaran/kebaikan berdasarkan jalannya sendiri. Manusia lebih ‘menikmati’ hidup dalam keberdosaannya, yang tanpa disadari justru akan semakin membinasakannya.
Respon iman manusia terhadap pembenaran Allah di dalam Yesus Kristus memungkinkan terjadinya pemulihan, yang berarti juga diprlengkapinya kembali manusia dengan hikmat yang bersumber dari Allah yang akan menuntunnya untuk hidup dalam kebenaran Allah.
Manusia memang rapuh, namun Roh Kudus sebagaimana yang dijanjikan oleh Yesus Kristus (yang adalah juga Roh hikmat) akan  senantiasa menghiburkan umat-Nya untuk tetap teguh dalam pengharapan serta hidup dalam kebenaran Allah.
Aplikasi:
Sejatinya, setiap orang  tentunya merindukan agar hidup yang dijalaninya merupakan sebuah kehidupan yang berkualitas dan punya makna. Namun faktanya; tidak semua orang sungguh-sungguh bisa mewujudkan impiannya tersebut. Harapan dan kenyataan tidak selamanya berbarengan. Sebab ada orang yang hanya bisa ‘bermimpi’ namun tidak mau melewati proses yang benar  demi meraih impian tersebut. Hal itu disebabkan karena manusia tidak lagi memiliki hikmat/pengetahuan yang benar dalam menjalani setiap realitas hidupnya akibat dosa. Manusia sering membanggakan ‘kebaikan-kebaikan’ dan ‘kebenaran-kebenaran’ yang semu dan berpusat pada dirinya sendiri (moralisme). Moralisme adalah usaha manusia untuk menyelamatkan hidupnya tanpa Kristus. Moralisme bukanlah suatu pengudusan hidup yang digerakkan oleh keselamatan di dalam diri Yesus Kristus (band. PGT bab V butir 2).
Hikmat berkaitan dengan ‘takut’ akan Tuhan. Semakin kita takut dan hormat kepada Allah yang kita imani di dalam Yesus Kristus, maka semakin pula kita memiliki pengetahuan akan kebenaran-kebenaran Tuhan dan semakin kita menjauhi kejahatan. Kasih kita kepada Allah tidak mungkin berdampingan dengan kesukaan akan dosa! Bila kita berkata bahwa kita mengasihi Allah, tetapi masih melindungi dosa yang tersembunyi, itu berarti hikmat Allah belum ada pada kita, sebab kita masih membuka diri untuk bersahabat dengan si jahat. Maka yang harus dilakukan adalah memutuskan hubungan dengan dosa dan menyerahkan diri secara total kepada Tuhan. Pastikan bahwa semua segi kehidupan kita terbuka pada arahan dan pimpinan Roh Kudus saja. Hanya dengan jalan itu kita dibenarkan oleh Tuhan. Hidup yang dibenarkan karena hikmat yang bersumber dari Allah memungkinkan kita bisa menjalani hidup yang benar, berkualitas dan bermakna.



Khotbah Kedukaan, ARIF DAN BIJAK MENYIKAPI KEMATIAN

ARIF DAN BIJAK MENYIKAPI KEMATIAN
(I Tesalonika 4 : 13-18)

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Berpisah dengan orang yang kita kasihi adalah sebuah peristiwa yang tentunya tidak menyenangkan, bahkan sangat menyakitkan.Terlebih kalau perpisahan tersebut sifatnya permanen karena diakibatkan oleh kematian. Tentunya semua orang pernah mengalami suasana atau situasi yang demikian, yaitu berada dalam posisi langsung sebagai orang yang berduka karena ditinggal pergi oleh orang yang dikasihinya. Kenyataan demikian sering membuat kita merasa tidak lagi memiliki harapan dan tujuan hidup. Hampa rasanya. Kita kehilangan gairah hidup, atau bahkan malas beraktifitas. Merasa tidak punya semangat lagi, tidak punya siapa-siapa lagi. Kesedihan, ketakutan dan kegundahan terus membayangi saat menyadari orang yang kita kasihi sungguh telah pergi untuk selamanya dan tak mungkin kembali lagi.
 Menghadapi kenyataan duka yang demikian, membuat perasaan kita menjadi sensitif. Mendengar orang bercerita dan menyinggung tentang diri almarhum, atau melihat benda yang ada hubungannya dengan almarhum semasa hidupnya, secara spontan menggiring hati kita hanyut dalam imajinasi pikiran dan perasaan kita yang tidak terkendali. Ibarat sebuah pengembaraan batin yang begitu melelahkan; dari lorong yang sunyi ke padang yang gersang. Memori kita menggiring lamunan untuk mengingat seluruh kehidupan orang yang meninggalkan kita; mengenang saat-saat indahnya kebersamaan semasa hidupnya. Kita membayangkan kelanjutan perjalanan hari-hari hidup kita tanpa kehadiran orang yang kita kasihi. Merekah-rekah nasib almarhum di dunia orang mati yang tidak bisa kita jangkau dengan akal pikiran kita. Lalu kita menangis dan meratap sejadi-jadinya. Hati dan pikiran kita berontak, namun tidak ada sesuatu yang dapat kita lakukan untuk mengubah kenyataan. Malah pada akhirnya kita menemukan diri kita terperangkap dalam kesedihan yang berkepanjangan, mengalami kelelahan fisik maupun psikhis. Akhirnya kita pun sadar bahwa sungguh tiada daya pada diri kita untuk menolak kenyataan tersebut. Menghadapi situasi yang demikian berat, bagaimanakah seharusnya kita bersikap?
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Dalam konteks bacaan ini, Rasul Paulus memberi penghiburan dan pencerahan rohani kepada orang-orang Kristen di jemaat Tesalonika yang sementara resah dan bergumul karena menghadapi ajaran-ajaran yang mengusik keyakinan iman mereka. Ajaran tersebut disebarkan oleh sekelompok orang yang mengajarkan bahwa tidak ada lagi pengharapan dan kebangkitan bagi orang-orang yang sudah mati. Mereka bertanya: Jika tidak ada kebangkitan orang mati, bagaimana dengan nasib mereka dan orang-orang yang mereka kasihi, jika telah meninggal? Pergumulan dan pertanyaan itulah yang dijawab oleh Rasul Paulus dalam bacaan ini. Menurut Rasul Paulus, setiap orang tidak perlu kuatir dan kehilangan pengharapan oleh karena kematian, sebab jika kita percaya bahwa  Yesus telah mati dan telah bangkit kembali maka kita juga percaya bahwa mereka yang telah meninggal dalam iman kepada Yesus Kristus akan dibangkitkan dan dikumpulkan oleh Allah bersama-sama dengan Dia. Ini adalah sebuah kepastian bahwa seluruh orang percaya yang meninggal akan dikumpulkan oleh Tuhan di suatu tempat. Pada kedatangan Yesus yang kedua kelak, orang beriman yang telah mati akan dibangkitkan dan disatukan dengan-Nya kelak. “Sebab waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah selama-lamanya kita akan bersama-sama dengan Tuhan.” (I Tes 4:16,17).
 Kita tidak perlu kuatir mengenai nasib orang yang telah meninggal, karena mereka akan bersama dengan Tuhan. Mereka sepenuhnya berada dalam rancangan kasih Allah. Mereka diurus oleh Allah sehingga kita tidak perlu merisaukan keadaannya. Mereka sudah tenang di sana dan sama sekali sudah terlepas dari pergumulan. Justru kita di sinilah yang masih belum tenang. Sebab mereka yang mati dalam iman kepada Yesus Kristus kelak akan dibangkitkan. Kematian adalah jembatan menuju pada tahapan kehidupan berikutnya. Setiap orang percaya tidak perlu kuatir terhadap kematian sebab di balik kematian pasti ada kebangkitan. Paulus berkata: “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Flp.1:21). Inilah puncak kebahagiaan dan pengharapan orang percaya. Artinya kita yang hidup dalam Tuhan akan bertemu kembali dengan orang yang sudah meninggal dalam Tuhan. Pertanyannya apakah kita telah hidup dalam Tuhan dan akan mati dalam Tuhan? Sama seperti yang dikatakan Paulus: “Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati kita adalah milik Tuhan”. Kristuslah yang menghubungkan  dan mempersekutukan kita yang ada dalam ‘kenyataan’ dan mereka dalam ‘kenangan’.
Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama menyampaikan pidato yang sangat mengagumkan tentang imannya sebagai seorang Kristen saat menghadiri acara National Prayer Breakfast di Washington, Amerika Serikat. Ia menyebutkan bahwa kekuatiran bisa membuat seseorang melakukan hal-hal yang buruk, terperangkap dalam situasi tertentu dan melakukan tindakan ‘menyeramkan’ di luar kontrol. Kekuatiran juga bisa membuat seseorang menyerah dalam keputusasaan, kelumpuhan, atau iri hati. “Iman saya memberitahukan saya bahwa saya tidak perlu takut mati. Penerimaan dalam Kristus menjanjikan hidup kekal dan penghapusan dosa. Iman adalah obat mujarap bagi rasa takut. Yesus adalah obat yang baik bagi rasa takut. Tuhan memberi orang percaya kekuatan, kasih, ketertiban untuk menaklukkan rasa kuatir,” ucap Obama, seperti dilansir Christianpost.com.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Jika saat ini, dalam suasana duka yang kita alami, kita teringat akan sosok almarhum dan membuat kita bersedih dan menangis. Secara manusiawi, hal itu sangat wajar. Namun jangan sampai dukacita menyeret kita  dalam rasa kuatir yang berkepanjangan lalu kehilangan pengharapan. Namun sebagai orang Kristen kita harus meyakini bahwa Allah akan mempertemukan kita dengan orang-orang yang kita kasihi dengan cara-Nya sendiri, dan dengan waktu yang Allah tentukan sendiri. Oleh karena itu, sebenarnya kita tidak perlu terlalu larut memikirkan nasib orang yang ‘sudah mendahului kita’, sebab itu adalah kewenangan Allah.

Kebenaran yang disampaikan melalui Firman Tuhan saat ini merupakan sumber pengharapan yang memberi kita kekuatan dan penghiburan untuk dapat secara ikhlas menerima dengan arif dan bijak menyikapi peristiwa kematian yang terjadi atas orang yang kita kasihi. Tujuannya ialah supaya kalau kita berduka, kita berduka sebagai orang  yang punya pengharapan. Satu hal yang harus kita ingat ialah bahwa kematian bukanlah akhir dari kasih karunia Tuhan. Sikap iman yang demikian merupakan kesaksian yang baik dalam mengenang orang yang sudah meninggal. Sebab hubungan kita dengan Tuhan dan orang-orang yang kita kasih tidak diputuskan oleh kematian. Hidup kita sekarang adalah bayangan dari hidup yang sesungguhnya. Kita adalah orang asing atau pendatang di sini sebab kewargaan kita yang sesungguhnya ialah di sorga. Allah akan menyediakan suatu tempat kekal bagi mereka di mana tidak akan ada ratap tangis lagi dan tidak akan ada maut/kematian lagi di situ. Adapun kalau Tuhan masih mengaruniakan kesempatan hidup kepada kita, tidak lain adalah supaya kita berbuah dalam iman untuk saling menopang, bahkan saling berbagi penghiburan yang asalnya dari Tuhan. Roh Kudus akan senantiasa membimbing dan menghibur kita dan segenap keluarga yang berduka!    Amin!                                   

Thursday, October 1, 2015

PRIBADI YANG RENDAH HATI



MATIUS  3:1-12
PRIBADI YANG RENDAH HATI
Alkitab menyatakan bahwa Yohanes pembaptis memiliki hubungan yang dekat dengan Yesus (sepupu) karena ibunya (Elisabeth) masih ada hubungan kekerabatan (sepupu pula) dengan Maria (ibu Yesus). Selain itu kelahiran Yohanes Pembaptis juga ajaib dan mengherankan sebab ia dilahirkan dari seorang wanita yang sebenarnya mandul. Juga ketika Ia berada dalam kandungan, ayahnya  mendadak menjadi bisu dan baru dapat berbicara ketika Yesus lahir.
Sesungguhnya ada banyak alasan bagi Yohanes untuk membanggakan diri atau menjadi seorang yang “besar”. Namun Yohanes tidak melakukan itu, ia tetaplah seorang yang rendah hati. Padahal Ia adalah pembuka jalan bagi kedatangan Sang juruslamat yang sudah dinubuatkan sejak zaman nabi Yesaya (yohanes 40 : 3). Yohanes berkata, “Aku membabtis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan tetapi Dia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melapaskan kasut-Nya. Dia akan membabtis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api “(mat. 3 :11). Simak pula pernyataan Yohanes, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil “(yoh. 3n : 30). Hal Ini menunjukkan bahwa Yohanes tidak haus pujian atau ingin dihormati, ia tetap menempatkan Yesus sebagai yang utama dan terbesar. Dialah yang patut ditinggikan dan diagungkan, bukan dirinya.
Yohanes pembabtis telah memberikan teladan yang luar biasa bagi setiap orang percaya untuk memaknai hidup yaitu membawa syalom bagi sesama. Sering kali ketika seseorang sudah dipercaya, baik dalam organisasi gereja maupun dalam bidang lainnya sep. banyak pemimpin pada umumnya, hatinya mulai berubah, apalagi kalau merasa sudah popular. Terkadang Ia mulai membusungkan dada sehingga dalam hal pelayanan atau pekerjaan terkadangpun mulai pilih-pilih ; mau melayani asal fasilitas yang disediakan sesuai dengan yang dikehendaki, atau mau membantu sesama asalkan ada balasannya. Kita sudah lupa dengan esensi sebagai seorang “hamba” yaitu untuk melayani dan bukan dilayani. Kita ini adalah hamba yang diutus untuk membawa syalom seperti Yohanes. Amin!

Monday, August 31, 2015

KITA ADALAH PEMENANG

Roma 8 :35-39
KITA ADALAH PEMENANG

Semua orang ingin menjadi pemenang. Karena itu, ketika membaca Roma 8 :37 yang berkata bahwa setiap pengikut kristus kita “lebih dari orang-orang pemenang”, kita merasa gembira. Namun apa maksud ungkapan diatas ?
Rasul Paulus memulai Roma 8 dengan menceritakan tentang kasih karunia Allah yang mengutus Putra-Nya, Yesus, untuk mati menebus dosa kita. Kemudian ia juga mengatakan bahwa semua orang percaya akan mendapat pertolongan Roh kudus yang akan memberi kemenangan atas kuasa dosa dalam kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya Rasul Paulus berbicara tentang kasih Kristus yang tak berkesudahan. Dalam keadaan tertentu kita mungkin merasa sendirian dan kalah, tetapi sesungguhnya kita adalah pemenang karena tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.
Maka seorang Kristen hendaknya tidak berputus asa, atau berusaha lari dari tantangan. Penderitaan harus dihadapinya. Mungkin kadangkala penderitaan membuat kita beranggapan bahwa kita telah ditolakoleh Yesus. Namun, firman Tuhan menyatakan bahwa tidak mungkin Kristus berbalik menolak kita atau Allah berbalik memusuhi kita. Kematian-Nya untuk kita merupakan bukti kasih yang tidak dapat dikalahkan oleh apapun. Kasih-Nya melindungi kita dari berbagai bentuk kekuatan apapun yang berupaya menguasai dan mengalahkan kita. Kematian-Nya yang begitu besar seharusnya membuat kita merasa aman dan menang di dalam Dia. Karena Kristus dan kasih-Nya yang tak berkesudahan bagi kita, maka kita adalah pemenang!

Abaikan kuasa yang lain yang ada disekitar anda

 jagalah kuasa kasih Kristus dalam diri anda.

Friday, August 28, 2015

JANGAN MENYOMBONGKON DIRI

1 Korintus  4 : 6-10
JANGAN MENYOMBONGKON DIRI
 
Pater Edward,  mohon petunjuk untuk mengatasi akar dosa kesombongan. Kesombongan adalah ibu dari segala  akar dosa. Kesombongan tidak peduli kebaikan  bagi sesame manusia. Kesombongan ingin mengendalikan kehidupan dan orang lain. Kesombongan nyata dalam amarah, kritik dan menganggap orang lain itu bodoh.
Melalui suratnya, Paulus mengajak orang korintus untuk tidak menganggap diri lebih pandai, lebih penting, dan lebih berkuasa dari orang lain. Bagi Paulus, semestinya “para pelayan termasuk Rasul” merendahkan diri bukan kalau perlu merendahkan diri dihadapan setiap orang. Bagi orang Korintus, mereka menganggap diri lebih kaya dalam karunia dan berkat dari pada Paulus karena itu Paulus tidak layak memberitakan Injil bagi mereka. Paulus mengajak orang untuk tidak menilai orang lain hanya berdasarkan penilaian – peilaian status social  dan hal-hal formalitas saja. Tetapi lihatlah sesame manusia secara arif berdasarkan cara Yesus yang penuh kasih, merendahkan diri  bahkan pengorbanan diri.
Mungkin selama ini kita menilai seseorang menurut status sosialnya dengan apa yang ada padanya atau menilainya dari segi siapa yang mengutus dia dan apa yang diberitakan. Selanjutnya apakah kita mengakui bahwa apa yang ada pada diri kita adalah milik Tuhan. Dan karena milik Tuhan maka kita merendahkan diri dihadapannyaserta bersyukur kepada-Nya. Kemudian bagaimana kita nyatakan dalam hubungan dengan sesama. Apakah kita selama ini yang ada pada kita tidak menghalangi kita mendengarkan siapa saja yang memberitakan firman Tuhan. Dasar dari kerendahan hati Kristen adalah menyadari bahwa bakat karunia rohani yang kita miliki berasal dari Allah.

“Rendahkan diri serendah-rendahnya

sampai tidak ada lagi tempat kita jatuh (anomin)